Sabtu, 03 Oktober 2009

Berlayar di atas Perahu Kertas


















Perahu Kertas bercerita tentang kisah cinta dua Agen Neptunus bernama Kugy dan Keenan. Kugy, seorang cewek cantik, mungil, berdaya imajinasi tingkat tinggi namun berantakan. Keenan, seorang cowok indo, tampan, cerdas dan dengan keajaiban tangannya mampu menciptakan lukisan-lukisan yang magis.

Kugy sejak kecil mempunyai cita-cita menjadi seorang Juru Dongeng, semua hal dia lakukan demi mewujudkanya. Keenan sendiri mewarisi bakat melukis dari ibunya dan kelak ingin menyerahkan hidup sepenuhnya untuk melukis. Namun sayang jalan menuju cita-cita itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Kugy berusaha realistis jika profesi Juru Dongeng belum mampu dijadikan sebagai sandaran hidup, sedangkan Keenan harus menghadapi pertentangan dari Papanya yang seolah ingin memusnahkan bakat di dalam dirinya tersebut. Haruskah mereka mengorbankan cita-cita bahkan jati diri mereka sendiri?

Mereka berdua akhirnya saling membantu dan menguatkan hingga tanpa mereka sadari tumbuhlah benih-benih cinta di antara mereka berdua. Namun sayang Kugy telah memiliki Ojos, sehingga dengan terpaksa keduanya memendam rasa cinta itu.



Meski Dee memulai kisah Kugy dan Keenan dari usia mereka ketika masih baru saja lulus SMA, namun sejak awal aku yakin bahwa novel Dee nggak akan jatuh menjadi novel percintaan remaja yang mendayu-dayu dan lebay. Perahu Kertas memang bukan kisah cinta yang biasa, di dalamnya kita akan dibuat tersenyum hingga tertawa oleh humor yang nggak murahan. Senang hingga gembira banget dengan hal-hal kecil yang nampak sederhana dan sepele sekali. Terharu hingga meneteskan air mata demi menyaksikan kesedihan dan pengorbanan para tokohnya demi orang-orang yang mereka cintai. Hebatnya lagi, Dee tidak membutuhkan kisah yang tragis dan dramatis untuk melakukan semua itu.


Menaiki Perahu Kertas kita akan mendapatkan banyak pelajaran hidup. Bahwa terkadang kita harus rela menjadi seseorang yang bukan diri kita dulu, untuk akhirnya menjadi diri kita yang asli. Ungkapan ini begitu mengena buat diriku pribadi karena sesuai dengan apa yang pernah kualami. Apa yang dirasakan Kugy juga aku rasakan, bahwa sampai sekarang aku masih belum bisa menggantungkan hidupku sepenuhnya pada menulis. Untungnya aku bekerja pada bidang yang masih berkaitan dengan dunia buku sehingga aku tidak putus sepenuhnya dari dunia tulis-menulis hanya demi mencari sesuap nasi dan segenggam berlian. Mulai lebay deh bahasanya.

Pelajaran yang lainnya dan lagi-lagi sangat mengena buatku pribadi adalah Cinta Itu Melepaskan Bukan Mengekang. Meski pada akhirnya Kugy dan Keenan mengetahui bahwa mereka saling mencintai namun mereka memilih untuk saling melepaskan karena tak ingin menyakiti hati pasangan masing-masing.


Setelah membaca novel ini, aku makin bersyukur karena kemarin-kemarin tidak sampai melakukan hal yang bisa menyakiti orang pernah aku sayangi dikarenakan rasa terlukaku yang bermutasi menjadi kebencian. Memang sih, itu bukanlah sesuatu hal yang mudah, melepaskan begitu saja orang yang kita cintai untuk orang lain.

Namun yakinlah bahwa Hati tidak pernah memilih namun dipilih. Karena jika kita memilih maka kita tidak akan pernah tulus mencinta. Karena hati tidak perlu memilih. Ia selalu tahu ke mana harus berlabuh.