Jumat, 29 Mei 2009

Kembar Keempat


Penulis : Sekar Ayu Asmara
Penerbit: Akoer, 2005

Sekar Ayu Asmara merupakan penulis novel yang karya-karyanya banyak diangkat ke layar lebar, mulai dari Belahan Jiwa, Pesan Dari Surga dan yang paling gres adalah Pintu Terlarang. Dia pun juga pernah menyutradai sebuah film berjudul Biola Tak Berdawai. Tapi ironisnya, nama Sekar Ayu Asmara sendiri sepertinya kurang begitu dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Bisa dimaklumi karena dia terjun di genre drama serius yang cenderung dark dan abstrak, tahu sendirilah genre tersebut termasuk sepi peminat. Selain isi ceritanya yang membutuhkan sedikit kerja keras otak kita dalam mencernanya, bahasa yang digunakan juga biasanya ada unsur-unsur sastra yang membuat kening berkerut.

Resensique kali ini akan meresensi salah satu novelnya yang berjudul Kembar Keempat. Novel ini bercerita tentang tiga saudara kembar Bhara, Bhadra dan Bhajra Pusponegoro. Mereka adalah kembar triplet tampan dan berbakat. Bhara yang seorang penyanyi sedang mengikuti audisi drama musikal berjudul The Prince of Bali. Bhadra pencipta lagu yang karyanya mewakili Indonesia dalam ajang kompetisi musik internasional. Lalu yang terakhir Bhajra adalah seorang sutradara film dokumenter.
Di belahan bumi yang lain, tepatnya di Manhattan, New York, tersebutlah seorang supermodel dunia dari Indonesia bernama Axena. Kehidupannya nyaris sempurna karena semua sudah dia dapatkan, karier yang cemerlang, kehidupan yang mewah dan glamour dan sang kekasih hati Merav, seorang sutradara film keturunan Yahudi.
Melangkah ke Turki, ada seorang fotografer wanita bernama Havana Sitompoel, yang bekerja pada kepolisian Istanbul, dia diberi tugas memotret korban-korban bunuh diri. Selain penampilannya yang eksentrik dengan kepala plontosnya, kehidupan asmaranya juga penuh dilema karena dia terlibat cinta terlarang dengan Yilmaz Bozdemir, seorang pelukis yang sudah beristri.
Pahitnya kehidupan yang penuh tragedi akhirnya mempertemukan kelima tokoh tersebut. Namun sayangnya di saat mereka akan menjemput kebahagiaan cinta mereka, sebuah kebenaran yang telah terkubur sekian lamanya akhirnya terkuak. Sanggupkah mereka menghadapinya dan memperjuangkan cinta mereka? Lalu siapakah yang dimaksud Kembar Keempat itu?

Membaca novel ini secara tidak langsung ikut memperkaya kosakata kita karena di dalamnya banyak sekali bertaburan kata-kata yang jarang atau bahkan hampir tidak pernah dipergunakan dalam novel-novel lainnya. Misalnya saja: melungkup, menggelimuni, menggeligit, bergelitar, mengerabik dan masih banyak lagi yang lainnya. Pemakaian kosakata yang jarang dipakai ini mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Kelebihannya sudah disebutkan di awal paragraf, sedangkan kelemahannya adalah bagi pembaca yang tidak mengetahui artinya akan mengurangi kenyamanan dalam menikmati kisah yang disajikan.
Namun sayangnya gaya penulisan cerita Kembar Keempat boleh dibilang agak kaku dan statis banget. Narasi yang dipergunakan sang penulis terasa begitu berjarak dengan pembacanya sehingga pembaca agak kesulitan ikut masuk dan tenggelam ke dalam cerita. Untungnya sang penulis masih berbaik hati dengan memberikan gaya bicara yang sedikit ngepop dan gaul pada para tokohnya. Walaupun kalau menurut saya pribadi terkesan dipaksakan dan kurang ‘smooth’ dalam penggabungannya.

Seperti halnya Joker, Kembar Keempat di awal ceritanya membawa pembaca pada peristiwa di masa depan yang menjadi bingkai dari perjalanan hidup dan cinta kelima tokohnya. Kemudian ceritapun bergulir ke belakang, bergantian antara kisah Bhara, Bhadra, Bhajra, Axena dan Havana. Ledakan yang diberikan dalam novel ini sebenarnya cukup keras hanya saja eksekusinya kurang begitu mantap sehingga kurang bisa menimbulkan kesan yang dalam di benak pembaca.
Jika pembaca cukup jeli dan peka, sebetulnya di setiap pergantian kisah para tokohnya ada semacam petunjuk yang menjelaskan hubungan sebenarnya dari para tokoh tersebut. Dan dari situ kita bisa menebak ending novel ini.

Fave Things
Character: Aku dari dulu pengin banget punya saudara kembar, pikirku menakjubkan banget melihat orang yang secara fisik begitu mirip dengan diri kita. Bahkan karena begitu terobsesinya, kelak aku pengin punya anak kembar. Tapi dalam novel ini, aku sama sekali nggak memfavoritkan ketiga cowok kembar di atas karena interaksi di antara mereka terlalu adem ayem dan kompak.
Mungkin yang bisa difavoritkan tuh Axena, sebagai model dia dijuluki chameleon atau bunglon, wajahnya bisa berubah-ubah sesuai keadaan sehingga tidak ada satu foto wajah Axena yang sama. Kalau seumpama novel ini difilmkan, menurutku yang paling pas memerankan tokoh ini tuh Karenina soalnya dia juga mempunyai kelebihan yang sama dengan Axena.
Scene: Duh, agak susah mencari adegan yang bisa difavoritkan dalam novel ini. Bukan karena aura ceritanya yang cenderung mellow dalam novel ini, tapi karena penulisan adegan-adegan pentingnya yang kurang mantap dan berkesan gitu.
Quote: Ini juga agak sulit. Ehm apa yaa….ini aja deh: Anak yang terlahir kembar, tak boleh terpisahkan oleh apapun, oleh siapapun.

Jumat, 15 Mei 2009

So Real/Surreal


Penulis: Nugroho Nurarifin
Penerbit: GPU, 2008


The Story
Seorang cowok memutuskan untuk menjalani hidup sekali pakai, maksudnya di sini adalah dia memakai barang-barang hanya sekali pakai aja, mulai dari peralatan makan seperti gelas plastik dan piring styrofoam, sleeping bag, celana dalam kertas bahkan baju-bajunya pun hanya sekali aja dipakai trus langsung dibuang. Itu semua dia lakukan karena dia marah pada kenyataan hidupnya yang begitu pahit. Dia ingin membatasi interaksinya dengan kenyataan yang sifatnya jangka panjang karena menurutnya sesuatu yang bersifat jangka panjang berpotensi memberi rasa nyaman, dan kehilangan rasa nyaman akan mendatangkan sakit hati. Lewat internet (dalam hal ini adalah blog) lelaki itu berinteraksi dengan Nugroho Nurarifin (yupe, si penulisnya sendiri neh), penulis novel dan penulis naskah di Pantarei Communications, sebuah advertising agency di Jakarta.
Nugi (nama panggilan Nugroho) sendiri punya cewek bernama Anisa (panggilan sayangnya Gempol) yang melamar sebagai desain grafis di sebuah majalah baru milik Raymond, seorang pengusaha media yang sangat terkenal. Si Cowok Sekali Pakai (habis emang ada namanya sih) awalnya mengaku sebagai cewek bernama Bunga dan rajin meninggalkan komentar di blog Nugi. Nugi yang diam-diam punya keinginan untuk melakukan threesome mulai merasa penasaran dan pengin bertemu dengan Bunga. Sementara itu Gempol yang trauma diselingkuhin cowok2nya terdahulu mulai menaruh curiga dan memutuskan untuk melakukan aksi ‘balas dendam’ dengan cara menjalin affair dengan bosnya, Raymond. Bagaimanakah akhir kisah mereka berempat? Untuk tahu jawabannya, tentu aja hanya dengan satu cara yaitu baca sendiri novelnya he3.

Technical Opinion

Tema:
Cinta. Penulis bisa mengemas tema ini dengan menarik, yaitu dengan memakai gaya penulisan 4 point of view. Tiap tokoh mempunyai ciri khas sendiri-sendiri dalam bertutur, Nugi cowok banget, Gempol manja dan menggemaskan, Raymond penuh kharisma dan Si Cowok Sekali Pakai begitu traumatis dan skeptis menjalani hidup. Aku suka sekali membaca interaksi antara Nugi dan Gempol, natural banget.

Alur/Plot
Berdasar urutan waktu-Alur Maju yang diselingi flash back, terutama kisah masa lalu Si Cowok Sekali Pakai. Ternyata oh ternyata dia tuh masih ada ‘hubungan’ sama….ups hampir spoiler.
Berdasar jenis-
Lembut. Tidak ada hal-hal yang disembunyikan oleh sang penulis, sejak awal udah ditunjukkan kalau ada tokoh yang gay, biseksual. Hampir nggak ada kejutan dalam novel ini, kisahnya mengalir gitu aja.

Berdasar sifat-
Tertutup. Ending untuk tiap tokohnya emang macem-macem, ada yang sad, jengkel, penasaran. Nggak begitu berkesan sih buatku endingnya karena udah bisa kutebak bakal berakhir kayak gimana nasib para tokohnya.


Personal Opinion
Awalnya yang bikin aku tertarik sama nih novel adalah gaya hidup Si Cowok Sekali Pakai itu, kok bisa sih ada orang kayak gitu. Nih orang bisa jadi egois banget ya, emang dia nggak pernah denger apa yang namanya pemanasan global? Di saat yang lain pada berlomba-lomba menerapkan recycle lifestyle, eh dia malah seenaknya bergaya hidup sekali pakai. Kok aku jadi ngomongin lingkungan yak…? Oke back to the novel, kalau dari segi cerita sih menurutku lumayan lah. Nggak ada sesuatu yang baru namun gaya penulisan 4 point of view-nya itu yang bikin menarik, buat yang pengin belajar gaya menulis seperti itu, novel ini cukup pantas untuk dicontoh.

Plus Minus Point
Judulnya keren dan earcatching banged. Desasin covernya yang berupa gambar tumpukan piring styrofoam dan sendok-sendok plastik itu sudah pas. Warna abu-abu yang mendominasi cover memberi kesan simple, modern dan soft namun kalau dipajang di rak buku kurang eyecatching, aku aja pas nyari-nyari di toko buku agak kesulitan untuk menemukannya. Ikut masuknya sang penulis dalam cerita ini emang cukup nyeleneh dan bikin novel ini makin menarik.

Fave Things

Character:
Nugi. Sebagai cowok dia tuh easy going, suka tantangan dan orangnya asyik buat temenan. Apakah mungkin ini citra diri sang penulis yang sebenarnya?
Scene: Saat-saat Nugi dan Gempol having quality time, lucu dan seneng aja gitu bacanya. Terlepas dari gaya hidup mereka yang seks bebas itu, mereka berdua bener-bener pasangan yang serasi and gokil. Quote: Nggak ada orang yang bisa bahagia karena hidupnya penuh dengan ketakutan. Hidup melawan realita seperti itu hanya memancing kenyataan untuk membalas dengan lebih keji.(hlm 171)

Di sinopsis yang ada di back cover disebutin kalau keempat tokoh dalam So Real/Surreal ini terdiri dari dua tokoh nyata dan dua tokoh fiksi. Tebakanku sih sudah pasti mengarah pada Nugi dan Gempol sebagai tokoh nyata karena di halaman depan ada kalimat persembahan yang bunyinya gini: To the world’s greatest wife, Anisa. Trus apakah cerita dalam novel ini juga merupakan kisah nyata ataukah hanya sebagian aja…? Hanya Tuhan dan Mas Nugi aja yang tahu jawabannya.


Rabu, 13 Mei 2009

Bintang Bunting


The Story

Adalah Audine, seorang wanita yang tidak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan di dalam hidupnya. Akibatnya dia selalu merasa bingung dan tertekan menjalani kehidupannya, apalagi gara-gara kelainannya itu dia sampai harus kehilangan pekerjaannya. Bahkan belakangan ini kehidupan rumah tangganya bersama Adam juga mulai mengalami goncangan. Untunglah ada Raeli, sahabat yang selalu setia mendengarkan curhatannya dan Mada, seorang peramal yang membantunya mengatasi kelainannya tersebut. Untuk bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan, Audine akhirnya membuat satu garis penanda manakala mengalami kejadian-kejadian yang aneh.

Seiring dengan kejadian-kejadian aneh yang dialamai Audine, garis penanda itu membentuk gambar sebuah bintang. Bintang demi bintang tergambar namun Audine masih saja belum mampu keluar dari masalahnya. Hingga akhirnya gambar bintang itu menunjukkan suatu kenyataan yang sama sekali tidak terduga. Suatu kenyataan yang sangat menyakitkan dan lebih buruk dari mimpi-mimpi buruknya selama ini.

Personal Opinion

Valiant masih menunjukkan kepiawaiannya membuat cerita yang mampu mengecoh pembaca melalui novel keduanya ini. Jalinan cerita di dalam BB (uhm…baru nyadar singkatan BB ini juga pernah dibahas sang penulis di salah satu blognya, tapi beda topik) cukup membuatku penasaran sehingga lembar demi lembar kulalui tanpa terasa membosankan. Valiant bisa mengemas tema yang sebenarnya sudah ‘basi’ menjadi sebuah cerita lebih segar dan menarik. Sok tau gue aja nih, ada beberapa info personal yang berkaitan dengan diri penulis yang (sengaja) dimasukkan sebagai karakter tokoh-tokohnya. Misalnya: Audine yang punya obsesi tinggal di Istanbul, Raeli yang punya kebiasaan mencuci tangannya sebanyak 7 kali.

Technical Opinion

Tema: Seperti yang kubilang di atas tema yang diangkat dalam BinBun sebenarnya sudah bukan hal baru lagi yaitu masih seputar cinta, cinta dan cinta.

Berdasar urutan waktu-Alur Maju dan sedikit flash back yang memberikan informasi tambahan tentang para tokoh-tokohnya. Misalnya aja, pertemuan pertama Audine dan Adam, Audine dan Mada, masa remaja Raeli yang emang dari sononya udah seneng dengan dunia kecantikan.

Berdasar jenis-Ledakan. Ledakan di BinBun emang nggak sedahsyat di Joker tapi kelebihannya ledakan itu dibuka saat cerita sudah 75 persen sehingga pembaca bisa ‘menikmati’ efek ledakan itu lebih lama.

Berdasar sifat-Tertutup. Valiant mengakhiri cerita dengan manis dan memuaskan pembaca dimana Audine akhirnya bisa menyelesaikan persoalan mimpinya itu. Yang masih menjadi tanda tanya buatku (juga buat Audine sendiri) kenapa si Mada sampe bela-belain menjadi peramal hanya demi seorang…ups keceplosan, ntar malah jadi spoiler. Apakah karena cinta (nafsu juga kali ya he he he) atau hanya iseng belaka? Mungkin yang bisa menjawabnya hanya si Mada sendiri aka sang penulisnya sendiri.

Plus Minus Point

Judulnya ‘nipu’ banget, pasti banyak pembaca yang mengira bahwa novel ini bercerita tentang seorang cewek bernama Bintang yang hamil di luar nikah. Tapi justru di situ kelebihannya, judul Bintang Bunting bikin penasaran dan earcathcing. Trus desain covernya juga keren, woman banget, cocok deh ama ceritanya.

Cerita tentang seluk-beluk pekerjaan Raeli di salonnya begitu detail dan deskriptif, ada dua kemungkinan kenapa Valiant bisa melakukannya dengan baik. Pertama dia emang melakukan survey yang cukup mendalam sebelum menulis BinBun, atau jangan-jangan dia emang pelanggan setia salon pijat he3. Oh iya, diskusi tentang kematian sebenarnya cukup menarik tetapi porsinya yang terlalu banyak bisa membuat pembaca bertanya-tanya, sebenarnya fokus ceritanya tuh siapa? Audine ataukah Raeli.

Fave Things

Character: Uhm…nggak ada tokoh yang aku favoritkan sih di Binbun. Mungkin si Miss Bling-Bling kali yak he3. Walaupun penampilannya norak dan ngeselin banget, dia secara nggak langsung udah menjadi ‘dewi penolong’ bagi Audine. Oh iya, lagi-lagi sang fotografer Joseph (tokoh di novel Joker) muncul dan mengambil peran yang nggak bisa diremehin meski kehadirannya hanya sebentar.

Scene: Adegan ketika Audine melakukan aksi balas dendamnya, ada caci maki, ungkapan kemarahan, tamparan2…uugh…nggak tahu kenapa aku tuh suka banget kalau liat cewek2 berantem dan nunjukkin sisi liarnya.

Quote: Kadang kebencian datang seperti kamu membenci Angelina Jolie hanya karena kamu menyukai Jennifer Aniston. (hlm 121)

Ada satu pelajaran yang bisa kuambil dari cerita BinBun, ungkapan bahwa orang yang paling berpotensi menyakiti kita begitu dalam adalah orang-orang terdekat kita itu emang bener banget. Aku bukannya menghimbau kalian untuk parno atau curigaan sama orang-orang dekat kita, enggak sama sekali. Cuma kalau kita mencintai seseorang itu jangan terlalu berlebihan because who knows someday tuh orang malah nyakitin kita dan menjadi orang yang paling kita benci. Begitupun juga sebaliknya, jangan berlebihan membenci orang because who knows someday kita butuh atau secara nggak langsung ditolong sama tuh orang. Segala sesuatu yang berlebihan itu emang nggak baik.


Senin, 11 Mei 2009

The Gogons: James & The Incredible Incidents


Penulis: Tere-Liye
Penerbit: GPU, 2006

The Story
Berkisah tentang persahabatan enam orang cowok yang dipersatukan oleh persamaan huruf pertama nama masing. Yang pertama A. James, di buku disebutin kalau huruf A di depan itu tidak ada kepanjangannya. Just A aja. Lalu ada Azhar Kuntoaji (Azhar), Adi Surya (Adi), Ari Nur Rahman (Ari), Ahdi Ardli Budi Asmoro (Diar) dan Anandito Budi Nugraha (Dito).
Mereka berenam mempunyai tabiat yang bermacam-macam, James terkenal playboy, Azhar pemalu tapi terkadang suka nekat, Ari yang cerdas namun agak pendiam, Adi yang dewasa, Diar yang suka bercanda dan Dito yang selengehan. Meski begitu persahabatan mereka tetap terjalin dengan baik hingga mereka memasuki dunia kerja. The Gogons sendiri adalah nama gang mereka yang berasal dari kebiasaan mereka memanggil satu sama lain dengan kata pengganti Gon.
Setiap anggota The Gogons mempunyai permasalahan sendiri-sendiri. Yang pertama, perjumpaan James dengan gadis cinta masa kecilnya yang bernama Weni di pesawat terbang saat perjalanan pulang dari pernikahan Adi dengan Made di Bali. Namun sayangnya James lupa menanyakan alamat atau sekedar nomer HP-nya yang kemudian membuat James penasaran dan mencari segala informasi yang tentang Weni.
Sementara itu Azhar mempunyai masalah percintaan yang menggelikan, dia tidak berani mengungkapkan rasa sukanya pada tetangganya sendiri yaitu Dahlia. Ironisnya di saat Azhar sudah menyatakan cintanya, sebuah petaka menimpa mereka berdua.
Lalu ada Diar yang tak pernah mendapat pengakuan dari keluarga dan juga punya masalah dengan kadar gulanya yang cukup tinggi hingga dia divonis dokter mengidap Diabetes yang parah. Ari yang mempunyai masa lalu yang gelap akibat perceraian kedua orang tuanya dan Dito yang tergila-gila pada cewek Ausie bernama Savana dan terjebak dalam sindikat narkoba. Lalu benarkah tidak ada hubungan dari semua masalah yang sedang mereka hadapi itu? Dapatkah mereka mempertahankan persahabatan mereka yang sedang diuji oleh berbagai macam masalah yang cukup pelik itu? Kenapa Weni selalu hadir di setiap musibah yang menimpa anggota The Gogons?


Personal Opinion
Alasan pertama aku tertarik membeli novel ini karena sejak dulu aku emang suka sekali membaca kisah-kisah tentang persahabatan. Apalagi setelah membaca sinopsis di back covernya yang cukup menarik dan membuat penasaran. Dan pilihanku emang tidak salah, The Gogons mampu menyajikan kisah yang seru, mengharu biru dan nggak membosankan mulai dari awal hingga akhir cerita. Ada satu bagian cerita yang cukup menyentuh yaitu saat Ari mengungkapkan kekecewaannya pada Diar yang udah desperate dengan penyakit yang dideritanya. Jujur, aku sampai menitikkan air mata karena emang kalimat-kalimatnya tuh menyentuh banget.

Technical Opinion
Tema: Emang sih umum banget tema yang diangkat yaitu tentang cinta dan persahabatan. Tapi Tere-Liye memberinya berbagai macam bumbu, mulai dari psikologi, misteri dan sedikit action sehingga nggak sampai jatuh membosankan.
Alur/Plot:
Berdasar urutan waktu-Sekitar 98 persen memakai Alur Maju, ada sih beberapa kali flash back namun nggak sampai bikin bingung kok. Gampang banget diikutin jalan ceritanya.
Berdasar jenis-Ledakan. Konflik yang diciptakan banyak banget dan masing-masing mempunyai kekuatan yang cukup berimbang. Tapi memang di buku pertama ini, yang menjadi pusat cerita dan pembawa ‘bom’ adalah James dan kisah cintanya dengan Weni. Penulis tahu benar kapan menekan tombol pemicu dan memberikan cukup banyak kesempatan bagi pembaca untuk ‘menikmati’ efek ledakannya tersebut.
Berdasar sifat-Campuran antara Terbuka dan Tertutup. Ada konflik-konflik yang sudah terselesaikan namun konflik yang masih mengambang dan mengundang rasa penasaran juga nggak kalah banyak. Novel ini dari awal emang kayaknya mau dibikin serial jadi wajar jika ada konflik-konflik yang dibiarkan tak terselesaikan di akhir cerita. Namun sayangnya, sampai sekarang lanjutan The Gogons ini belum terbit-terbit juga.

Plus Minus Point
Yang menjadi keunggulan dari novel ini menurutku adalah kemampuan Tere-Liye menyajikan dengan detail dan meyakinkan gangguan psikologis yang dialami tokoh-tokohnya, kita sebagai pembaca secara tidak langsung mendapat ilmu tentang dunia psikologi tanpa merasa digurui.
Kekurangannya dari segi bahasa dan diksi aja sih, dengan tokoh-tokoh utamanya yang cowok semua itu harusnya novel ini bisa tampil lebih garang dan berkharisma. Untuk desain cover lumayan lah, sudah cukup mewakili. Walaupun sebenarnya kurang cocok kalau pake gambar kartun kayak gitu, ya itu tadi, kurang garang dan cool aja liatnya.

Fave Character: Weni. Posisinya yang berada di antara dua sisi yang berlainan emang keren abies, di satu sisi sebagai cewek pujaan James namun di sisi lain sebagai femme fatal. Ditambah lagi dengan masa lalunya yang suram banget dan kehadirannya yang penuh misteri.

Buat kalian yang pengin tahu lebih dalem lagi apa itu arti sebuah cinta dan persahabatan, novel The Gogons inilah jawabannya. Banyak banget pelajaran dan hikmah yang bisa kita ambil dari kisah-kisah yang ada di dalamnya. Nggak rugi deh pokoknya.

Sabtu, 09 Mei 2009

Joker : Ada Lelucon Di Setiap Duka

Penulis : Valiant Budi
Penerbit : GagasMedia, 2007


The Story

Brama dan Alia melamar sebagai penyiar radio di White Wheel dengan tujuan yang berbeda. Brama begitu terobsesi pada cewek pujaannya di masa SMA bernama Mauri yang kini bekerja sebagai penyiar di radio tersebut. Bahkan keputusannya untuk mengambil kuliah di Bandung pun hanya karena tak ingin berada jauh dari Mauri, ironisnya cewek itu tak pernah menghiraukannya. Sedangkan Alia memang sejak kecil ‘bersahabat’ dengan Brama, di mana ada Brama di situ pasti ada Alia. Mereka ibarat saudara kembar yang tak terpisahkan. Namun gaya hidup mereka benar-benar bertolak belakang. Brama tipe cowok lugu yang berharap ada keajaiban yang terjadi pada ‘hubungan’nya dengan Mauri. Sedangkan Alia sebaliknya, dia adalah tipe cewek player yang menganggap cowok tak lebih hanya sebagai pemuas nafsunya belaka.
Namun sayang, usaha Brama untuk mendekati Mauri tak pernah berhasil. Yang ada malah makan hati mulu apalagi saat Brama mengetahui kalau Mauri berpacaran dengan Roman, drummer band Kecoak Terbang. Karena merasa putus asa dia lalu berniat resign dari White Wheel yang tentu saja ditentang oleh Alia. Alia yang diam-diam menyukai Roman, menawarkan bantuan untuk merebut Roman dari sisi Mauri. Brama menolaknya mentah-mentah karena sebenarnya dia sudah muak dengan tabiat Alia selama ini. Alia yang merasa tersinggung lalu mengajak Brama untuk bertaruh, jika Brama berhasil mendapatkan Mauri maka dia berjanji akan pergi selamanya dari kehidupan Brama. Brama pun menyanggupinya. Siapakah yang akhirnya akan memenangkan pertaruhan itu? Biar nggak penasaran, buruan deh baca novelnya.

Personal Opinion

Untuk sebuah debut novel perdana, Joker pantas untuk diacungi jempol karena berhasil membuatku penasaran dan tak mau berhenti membaca dari halaman pertama sampai akhir. Apalagi latar belakang pekerjaan tokoh utamanya cukup menarik buatku, karena selama ini aku nggak tahu gimana seluk-beluk dunia penyiaran itu. Ada kisah lucu dan seru, kerja keras dan pengorbanan di balik suara empuk yang selalu setia menemani para pendengar radio itu.


Technical Opinion

Tema: Tema yang diusung cukup berani yaitu tentang penyimpangan seksual. Namun sang penulis sangat piawai sekali mengemasnya dari awal dan baru benar2 terbuka di akhir cerita.
Alur/Plot:
Berdasar urutan waktu-Flash Back. Di halaman-halaman pertama, Joker membawa pembaca pada satu peristiwa yang menjadi semacam ‘bingkai’ yang mengawali dan menutup semua rangkaian cerita dalam novel tersebut. Gaya bercerita seperti ini sudah sering dipakai, baik itu di novel ataupun film. Biasanya gaya ini dipakai untuk mendapatkan efek dramatis dan penuh misteri sehingga membuat pembaca/penonton sudah penasaran sejak halaman/menit pertama.

Berdasar jenis-Ledakan. Disebut Ledakan karena jalan cerita Joker berhasil ‘menjebak’ pembaca dan memberikan ending yang cukup mengejutkan dan tidak terduga sama sekali. Sebenarnya aku menangkap beberapa kejanggalan di beberapa bagian cerita yang bisa menjadi petunjuk akan adanya ledakan di akhir cerita. Namun karena terlalu asyik mengikuti jalan ceritanya, tanda-tanda itu aku abaikan.
Berdasar sifat-Terbuka. Kisah cinta Brama dan Mauri sebenarnya sudah cukup jelas di akhir cerita namun ada satu ‘bom’ yang belum meledak dan ini membuat pembaca penasaran untuk mengetahui kelanjutan kisah mereka berdua. Sebagai pembaca, ada dua pilihan yang bisa diambil yaitu mereka-reka sendiri jalan cerita selanjutnya atau menunggu Valiant untuk menulis kisah lanjutannya.

Plus Minus Point

Aku suka banget dengan bahasa yang dipakai Valiant dalam Joker, ceplas-ceplos, gaul abis dan mengalir, yaa khas gaya bicara penyiar radio gitu deh. Secara sang penulis memang aslinya seorang penyiar radio yang sudah punya jam terbang yang tinggi. Kejujuran yang disampaikan begitu apa adanya dan terkadang menyayat setajam silet....!!! (Veny Rose mode on)
Yang kurang hanya satu buatku yaitu covernya, untuk novel dengan kisah yang agak-agak suram, gambar topeng-topeng itu kayaknya keramean deh. Coba kalau topengnya satu aja dan simple (nggak pake pernak-pernik kayak gitu). Walaupun termasuk warna fave-ku, tapi pemilihan warna biru muda itu kayaknya kurang pas, harusnya lebih dark. Pasti deh akan lebih dapet soul-nya.

Fave Character:
Alia. Walaupun doi tuh nakal dan bitch bangeeeed tapi cara berpikirnya yang liar, aneh dan cenderung absurd itu membuatku tersepona. Tapi kalau ada cewek beneran kayak dia, kayaknya menakutkan deh he3.


Dengan semua kelebihan dan kekurangannya, rasanya memang tidak salah jika juri KLA 2007 memasukkan Joker dalam nominasi Penulis Muda Berbakat. Urusan menang atau kalah, kurasa itu hanyalah masalah rejeki dan keberuntungan aja yang belum berpihak pada sang penulis.